![]() |
(Ilustrasi Gambar Oleh Penerbit Cahaya Pelangi Media) |
Masa yang paling indah untuk dikenang adalah masa-masa di SMA. Semua pasti pernah mengalaminya termasuk diriku. Orang sering menyebutnya masa SMA adalah masa putih abu-abu. Masa dimana sering terjadi pergolakan, masa transisi, masa puber, atau masa peralihan. Sebagian temanku mengalami masa puber saat di SMP bahkan saat dibangku SD ada yang sudah merasakan pubertas, karena selain usia sudah tua juga pengaruh pergaulan dan tontonan. Sedangkan aku setelah masuk SMA baru merasakan perubahan itu. Karena selain usiaku memang masih sangat muda sekali diantara teman sekelasku, sebab waktu masuk SD usiaku baru lima tahun, jadi saat SMA aku masih muda sekali dan baru merasakan masa pubertas dan baru mengalami menstruasi saat kelas dua SMA. Memang terlambat kata temanku, selain usiaku yang masih muda juga karena pergaulanku sama anak laki-laki semua dan aku jarang nonton film yang bertema pacaran ataupun aku tak pernah buka buku-buku porno seperti teman-temanku. Buku bacaanku justru komik, bobo, ananda, sifatku juga masih kekanak-kanakan.
Disaat kelas dua SMA, aku disenangi beberapa cowok di kelasku juga kakak kelasku, namun aku sendiri masih bingung dan belum ada rasa sreg dengan mereka. Bahkan ada yang nekad kirim surat cinta ada yang nembak langsung. Aku jadi merasa risih dengan mereka. Sampai-sampai ada yang mengatakan aku tak normal.
”Hai Dinda, kamu ini sadar nggak sih, kamu ini cantik, pintar, banyak yang suka, kenapa tak satupun cowok yang kamu terima untuk jadi pacarmu?” tanya Dony sahabatku.
”Aku takut pacaran Don” jawabku singkat
Dony justru tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawabanku tadi.
”Apa, kamu takut pacaran, aneh, banyak gadis pada iri sama kamu, cowok-cowok pengen mendekatimu dan mau jadi pacarmu, normal enggak sih kamu Din?” kembali Dony tak percaya sama jawabanku.
”Ya normal lah, kamu yang aneh bilang aku gak normal” aku semakin kesal sama Dony karena dianggap aku nggak normal.
”Ha..haa, maksudku kamu nggak lesby kan?” ejek Dony sambil setengah berlari karena takut aku pukul, ia berusaha untuk menghindari pukulanku yang siap mendarat dibahunya.
”Hei, kurang ajar kamu, apa kamu bilang aku lesby, dasar gila kamu ya Don” sambil ku kejar dia dan aku berusaha untuk mendapatinya untuk aku pukul karena sudah mengejek aku berlebihan.
Sepulang sekolah aku merenung sendiri dikamar, aku teringat kata–kata Dony siang tadi di sekolah. Apa benar aku nggak normal seperti kata Dony, padahal aku merasakan biasa saja. Wajar kan aku nggak berani pacaran, karena dikeluargaku, kalau masih sekolah memang tak dibolehkan pacaran sama ayah ibuku, karena takut mengganggu konsentrasi belajar. Keluargaku mengutamakan pendidikan nomor satu dan aku harus rengking satu dikelasku, sehingga tak ada waktu bagiku untuk santai ataupun pacaran seperti teman-temanku. Diotakku yang ada hanya belajar dan belajar itu saja, sehingga aku sering juara satu sejak SD hingga SMA ini, dan orang tuaku bangga dengan prestasiku.
Di SMA aku dekat dengan Dony dan Dory, mereka teman akrabku sejak SMP, dan kami seperti saudara yang tak bisa terpisahkan. Memang orang sering mengatakan kalau aku ini gadis tomboy, wajar karena aku sering berteman dengan cowok, dandanan rambutku, gaya bicaraku, sikapku juga seperti anak cowok, nggak ada feminim sedikitpun. Sampai orang sering memanggil kami 3D/TrioD( Dony, Dinda dan Dory). Aku dan Dony kebetulan satu kelas dan satu jurusan IPA sedang Dory di kelas IPS, kami terpisah kelas saat kelas dua SMA. Semua orang tahu kalau kami bertiga bersahabat sudah lama. Namun masih saja ada cowok atau cewek yang sering marah atau curiga sama kami bertiga. Pernah ada cewek namanya Sonia, jatuh cinta sama Dony, anak IPS, setiap hari mencari Dony, dan setiap kali melihat kedekatanku sama Dony, Sonia selalu marah-marah dan jutek sama aku, dikira aku mau merebut Dony darinya. Padahal Dony sendiri cuek dan gak perduli sama Sonia, Dony tetap saja mendekati aku dan kemana-mana kami selalu berdua kadang bertiga sama Dory.
Suatu ketika Sonia mendatangiku di kantin sekolah bersama ketiga sahabatnya Sonia yaitu Tita dan Nana.
”Hei Dinda, mana Dony? Tanya Sonia penuh semangat.
”Entahlah aku tak tahu” jawabku singkat
”Biasanya kan sama kamu, jangan-jangan kamu ini diam-diam pacaran ya sama Dony? ” tanya Sonia sedikit cemburu.
”Eh denger ya Sonia, aku gak ada pacaran sama Dony, kalau gak percaya tanya saja sama Dony”
”Alah, mana ada maling ngaku, paling Dony juga nggak bakalan ngaku” kata Nana
”Ya sudah kalau kalian nggak percaya” kuangkat kaki pergi meninggalkan mereka.
”Hei, tunggu, main pergi saja kamu” kejar Tita sahabat Sonia.
”Eh aku nggak ada urusan ya sama kalian” jawabku sambil kupercepat langkahku menuju kelasku.
Di dalam kelas kulihat Dony sedang asik ngobrol sama Edo ketua kelasku yang selama ini sering ngasih perhatian sama aku dan sering kirim surat cinta sama aku lewat Dony. Aku langsung saja duduk dibangkuku paling depan sama Lastri. Walaupun aku kurang akrab sama Lastri, karena aku paling nggak bisa berteman dengan cewek, terpaksa karena saat aku duduk dengan Dony dimarahi guru nggak boleh cowok duduk sebangku sama cewek, bahaya kata guru.
Kulihat Edo melirik kearahku, namun aku pura-pura tidak tahu, aku tahu sejak kelas satu SMA saat Mos dia sudah mencuri perhatianku dan sudah nembak sama aku lewat surat cintanya, tapi tak pernah aku balas, jadi dia merasa sungkan bila melihatku. Cinta terpendam kata teman-temanku. Beda dengan Jody, cowok paling agresip di kelasku, dia suka cari muka dan godain aku seenaknya, muka tembok dengan PD nya ia suka mancing-mancing keributan sama aku.
”Halo sayang, darimana aja kamu, tumben sendirian, biasanya sama ayang Dony” kembali Jody menggodaku dan tiba-tiba ia duduk diatas mejaku. Sontak saja aku berdiri dan ingin aku mencakar mukanya, baru saja aku menggenggam tanganku, tiba-tiba tanganku diraih Dony dari belakang.
”Eh sudah-sudah, yang waras ngalah, Jody, jangan macam-macam kamu sama cewek”
”Yah yang punya cewek marah” kembali Jody bikin kelas gaduh.
Untung bel segera berbunyi dan kami segera siap-siap untuk menerima materi pelajaran terakhir hari ini. Mataku melirik Dony yang menahan amarah sama Jody, kulihat Edo juga geram sama kelakuan Jody, tapi tak berani berkata apa-apa.
Setelah bel pulang sekolah aku segera menuju tempat parkir sepeda. Dony berusaha mengejar aku, tapi aku berusaha untuk menghindarinya, aku tak mau Sonia salah paham sama aku dan Dony. Kulihat ditempat parkir ada Edo yang ternyata parkir sepedanya mepet dengan sepedaku. ”Maaf, biar aku pinggirkan dulu sepedaku” kata Edo sopan. Aku sendiri diam saja sambil berusaha untuk menepi agar Edo bisa mengeluarkan sepedanya terlebih dahulu. Kulihat di kejauhan Dony nampak memperhatikanku sama Edo, tapi aku tak memperdulikannya, toh aku tak melakukan apa-apa sama Edo. Setelah Edo mengambil sepedanya dan pamit duluan pulang, tinggal aku segera mengambil sepeda dan terus melaju pulang. Dony nampak bingung dan tak mengerti apa yang telah terjadi, mungkin dia heran dengan sikapku tadi yang tak seperti biasanya.
Diperjalanan pulang rupanya Dony masih penasaran dan mengejarku dengan sepedanya. Nasib sial sedang menghantuiku, sepedaku bocor ban, mau nggak mau aku berhenti dan kupinggirkan, untung saja ada bengkel di dekat situ. Kemudian Dony menemaniku ke bengkel sepeda. Dia memandangku seolah penuh tanya apa yang terjadi sama aku.
”Din, hari ini kamu nampak aneh, ada apa ?” tanya dia setelah kami berhenti di bengkel.
”Aku nggak kenapa-kenapa”
”Gak mungkin kamu biasanya nggak seperti ini, apa aku salah sama kamu, kamu kelihatan mau menjauhiku”
”Oh, itu cuma perasaanmu saja, oya kamu tadi dicari Sonia”
”Sonia, ngomong apa dia sama kamu, aku jadi penasaran”
”Nggak ngomong apa-apa dia hanya cari kamu saja”
”Oh…. Eh iya Din, ini aku ada titipan surat buat kamu dari Edo”
”Edo….surat apa ?” kenapa tadi dia nggak ngasihkan sendiri sama aku demikian pikirku.
”Biasalah surat cinta.”
”Ah sudahlah dari dulu surat cinta terus, buat kamu saja”
”Hei Dinda, kamu ini aneh, masak surat cinta Edo buat aku, coba dong buka, biar kamu tahu isi hatinya.”
”Aku nggak perlu tahu, sudah tahu.”
”Masak sih, coba dong Din, buka isi hatimu, Edo itu serius lo sama kamu, dia itu cinta banget sama kamu dari dulu, cuma kamunya aja yang jutek terus sama dia. Coba terima saja, biar kau nggak digoda terus sama Jody dan yang lainnya.”
Aku diam sesaat, kucoba lihat raut wajah Dony, aku tahu sebenarnya Dony sungguh baik sama aku dan selalu menjagaku dari siapapun yang selalu menggodaku, tapi dia sahabatku, nggak mungkin juga Dony ada rasa sama aku. Sebenarnya aku tak perlu seorang pacar buatku, aku cukup punya sahabat baik seperti Dony, dan Dory yang setiap saat menjagaku, menemaniku kemanapun aku pergi. Tapi banyak sekali yang melihat kedekatan kami, Sonia bisa marah-marah kalau aku dekat dengan Dony, Serly juga marah kalau melihat aku dengan Dory. Terus terang aku bahagia dan nyaman setiap ada didekat Dony, namun aku tak tahu perasaan apa yang sesungguhnya menghantuiku. Apakah aku mencintai sahabatku sendiri, apakah Dony juga memiliki perasaan yang sama terhadapku, tapi malu untuk mengungkapkannya.
Cinta memang aneh dan sulit aku ungkapkan sama siapapun dan aku cukup memendamnya sendiri dilubuk hatiku yang terdalam. Aku lihat juga Dony sangat sayang dan perhatian sama aku melebihi siapapun, cuma Dony tak pernah mengungkapkan rasa cintanya terhadapku, dan surat-surat cinta dari Edo tak pernah aku buka dan baca, semua masih tersimpan dilaci mejaku. Entah aku tak berani untuk membukanya hingga aku lulus dari SMA dan aku sudah harus pergi keluar kota untuk melanjutkan pendidikanku dibangku kuliah.
Saat aku mau pergi aku mengemasi semua barang-barangku, dan aku penasaran membuka surat demi surat dari kakak kelasku juga dari Edo. Bahkan surat terakhir dari Edo. Alangkah kagetnya aku saat membaca surat yang ditulis rapi dan indah oleh Edo. Disurat terakhirnya, ia berkata kalau ia sadar ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan dan ia ingin mengalah demi aku bahagia bersama Dony. Ia mengatakan kalau sesungguhnya Dony juga mencintaiku, namun malu dan takut aku menolak cintanya dan takut aku tak mau bersahabat dengannya. Ya Tuhan, kenapa aku baru tahu isi surat itu. Kini aku tak tahu dimana sekarang mereka, dimana Dony, seolah mereka hilang dari kehidupanku. Tuhan dimanapun mereka berada aku ingin katakan kalau aku juga mencintainya. I love you Dony sahabat terbaikku, aku rindu akan hadirmu.
****SELESAI****
BIODATA PENULIS
Sri Supadmi, S.Pd adalah nama asli dari Padmi Asmadiwati, lahir di Klaten Jawa Tengah, 09 Agustus 1973. Sarjana S1 UNY Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan.
Alamat rumah: Jl. Valgoson, No. 34, Rt.5, Desa Binawara, Kec. Kusan Hulu, Tanah Bumbu, Kalsel.
WA : 081349680197, IG/FB : Padmi Asmadiwati, email: srisupadmi_smpn1khulu@yahoo.com
Editor : Ahmad Riyan Nailanie, S.Pd.


